To be honest, I’m despondent.
Awalnya saya pikir, menulis itu mudah, terutama karya fiksi, seperti cerpen atau novel.
Saya selalu skeptis melihat dan membaca sekilas karya fiksi orang lain, apalagi karya teenlit yg buat saya (maaf) sangat biasa.
Dalam hati saya mencibir, “Halah, gitu aja...Aku juga bisa!”
Tetapi hingga berbulan-bulan kemudian, saya belum berhasil membuat satu karya pun!
Banyak ide menarik yang saya miliki, namun kesemuanya jalan ditempat tanpa perkembangan berarti.
Banyak alibi diri saya atas diri saya sendiri (aneh memang!), mulai dari rasa malas, saya kurang kaya pengetahuan akan setting yang diperlukan dsb...banyak sekali!
Saya merenung, dan merenung, (bahkan dalam melaksanakan aktivitas lain pun saya masih ingat “kegagalan” saya)...
Hasilnya, saya baru sadar kalau ternyata pangkalnya ada di prinsip yang menjadi kebiasaan saya : Saya pantang beli buku jika hanya buku fiksi! Jika itu buku fiksi yang benar-benar terkenal bagus, saya akan meminjam di perpustakaan atau ke teman bahkan saya akan download versi ebook free downloadnya. Intinya “pelit” banget keluar duit buat buku fiksi deh! :D
Saya jadi ingat kata-kata Pak Dody Mawardi (Penulis Senior) dalam bukunya Menulis Buku Itu Mudah : Hukum Alam!
Jangan harap Anda menjadi penulis buku professional dan best seller jika untuk membeli buku saja Anda enggan!
Sudah, patah sudah harapan saya untuk menulis buku! Saya memang “pelit” beli buku, meski saya cukup “loyal” membaca buku, tapi berdasarkan Hukum Alam, hal itu tidak berpengaruh terhadap cita-cita saya menulis buku.
Sederhananya, uang 50rb buat saya mending untuk beli night cream dari pada buku, lebih-lebih fiksi!
Tapi anehnya, meskipun saya “loyal” membelanjakan uang saya untuk skincare, tapi rasa-rasanya saya tidak cukup layak menjadi brand ambassador produk tersebut.
Padahal, menurut Hukum Alam, harusnya saya bisa jadi brand ambassador produk itu.
Nah lhoh, jadi motto itu bukan hukum, melainkan masih teorema bahkan mungkin hipotesis? (math logic sekali ya? :D)
Lalu, apa yang sebaiknya saya lakukan? Masih kah saya harus “manut” pada “Teorema Alam” itu?
Hmmmm....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar